Well Done, Wellbeck

Yang pasti tak banyak orang tahu tentang sosok Danny Wellbeck, seorang muda yang masih berusia belasan tahun namun memiliki sebuah potensi besar di dalam dirinya. Wellbeck yang terbuang dari skuad sebuah klub super raksasa sekelas Manchester United, dan akhirnya menjadi seorang pemain dengan status pinjaman di sebuah klum medioker berjuluk Black Cats alias Sunderland.

Sunderland yang selama beberapa tahun terakhir seakan menjadi tempat pembuangan bagi para pemain Manchester United yang dianggap kurang memiliki kesempatan bermain di tempat utama, ternyata menjadi sebuah wahana yang cukup efektif bagi Wellbeck dalam memposisikan dirinya sebagai sebuah striker yang layak diperhitungkan.

Salah satu yang paling menonjol beberapa pekan silam adalah saat dirinya menjadi bintang kala Sunderland mempermalukan sang pemuncak klasemen dengan sebuah gol cantiknya. Sebuah pembuktian diri bagi seorang muda yang masih butuh pengakuan akan tingginya kemampuan yang ia miliki.

Beberapa pihak, termasuk sang pelatih, menyayangkan keadaan Wellbeck yang seakan dalam keadaan terkatung-katung berstatus pinjaman namun masih diakui sebagai pemain MU. Tapi sesungguhnya, beberapa orang baru akan menyadari bahwa dirinya lebih berharga, lebih bermakna dan lebih bisa mengeluarkan kemampuan saat berada di sebuah tempat yang sesungguhnya bukan tempat yang ia idamkan. Karena kapasitas seseorang seringkali tenggelam di saat banyak nama besar serta kekuatan besar yang mengelilingi dirinya.

Read more

Deltras yang Terbatas

It’s all over, gelaran liga sepakbola kasta kedua di negeri tercinta telah berakhir sepekan silam. Laga semifinal yang jauh lebih mendebarkan dan menentukan dibandingkan laga final sesungguhnya telah secara mutlak menghasilkan dua kandidat teratas yang dipastikan masuk kasta tertinggi dari liga sepakbola (yang konon) profesional.

Yup benar, dari kedua tim yang sama-sama berasal dari Jawa Timur itu salah satunya adalah  tim yang memiliki stadion homebase yang jaraknya hanya terhitung ratusan meter dari rumah Bejo yang sesungguhnya. Sebuah tim dari kabupaten yang terbilang kaya raya, baik dari hasil industri maupun hasil buminya, dan juga selama empat tahun terakhir kaya berita akan sebuah musibah berkepanjangan yang berasal dari perut bumi.

Tim yang berjuluk the Lobster, hanya karena kabupaten tempat tim itu berasal dulunya sangat terkenal dengan hasil udangnya, dan juga olahannya. Kabupaten yang juga sangat masyhur dengan berbagai olahan kuliner hasil laut yang selalu membuat Bejo rindu untuk pulang, tempat dimana sebagian besar hidup dan kenangannya bersemayam.

Sambil menghela nafas melihat adu penalti yang mendebarkan saat semifinal berlangsung, Bejo sedikit terperangah. Tim sepakbola yang satu ini memang tak bertabur bintang, pemain asing yang dimiliki pun bukan kualitas nomor wahid seperti yang dimiliki tim lawan. Bahkan ada salah seorang pemain yang usianya hampir sama dengan usia pelatihnya, mantan bintang yang telah bermain tiga dekade di berbagai jenis liga.

Sebuah komposisi yang sangat terbatas, pas-pasan dan mungkin  banyak dicibir orang pada saat awal liga bergulir. Manajernya bahkan “hanya” seorang gadis muda yang sering terlihat labil duduk di bangku cadangan, tapi nyatanya punya mental baja untuk memimpin sekumpulan pria di sebuah kerumunan olahraga yang terbilang cukup “maskulin”. Bahkan seorang kaptennya pun, mungkin terbilang terlalu belia dengan rambut berwarna yang menandakan jiwa mudanya yang penuh pemberontakan, tapi ternyata cukup punya nyali untuk memimpin beberapa rekannya yang jauh lebih tua dan punya jam terbang tinggi.

Terbatas memang, tapi tak harus menyerah dan terbaring tewas. Terbatas memang, tapi harus pantang menyerah dan punya niatan untuk tetap menang. Lihat saja seorang Fahmi Amirudin, sang jagoan tua yang sudah tak kencang larinya, tapi cukup cerdik untuk mengatur aliran bola ke rekan-rekan mudanya yang ada di depan. Atau simak pula aksi Ferry Aman Saragih, yang meski terlihat cekatan dan punya kecepatan tinggi, tapi cukup bijak untuk tetap patuh berada di lini kedua tepat di belakang striker utama.

Sebuah kerja kolektifitas tingkat tinggi yang mungkin takkan pernah terjadi saat sebuah tim memiliki beberapa bintang yang sangat terang sinarnya. Dan takkan mungkin terjadi saat sebuah tim hanya memiliki komponen yang saling acuh dan tak mau mengakui kekurangannya dengan melakukan kerjasama nan apik. Dan takkan mungkin terjadi pula jika sebuah tim tak memiliki pelatih yang mampu memimpin mereka agar tetap dapat solid di lapangan.

Sungguh, meski hanya punya materi yang terbilang pas-pasan, tapi prestasinya sangat membanggakan.
Bravo Deltras……

Brave Head

Ada yang tersisa dari dua pertandingan di akhir pekan lalu. Dua klub dengan suporter fanatik yang sama-sama memetik kemenangan dengan dua buah gol di penghujung pertandingan. Uniknya gol terakhir dari kedua tim tersebut dicetak dengan sundulan kepala oleh dua pemain yang sama-sama memiliki postur tubuh relatif mungil dibanding rekan setimnya.

Pertandingan pertama di sore hari, antara Persebaya yang menghadapi Persela di kandangnya sendiri, di bawah dukungan ribuan suporter yang kerap dibenci di berbagai daerah lain. Gol kedua yang dihasilkan Andik Vermansyah, pemain yang konon sempat menjadi pengamen jalanan dan pedagang asongan sebelum memiliki karir yang lumayan menjanjikan di dunia sepakbola. Seorang pemain bertubuh mungil dibanding para penjaga gawang, meski posturnya yang dapat ditutupi dengan kemampuan dribbling bola yang menawan dan keberanian untuk bertarung dengan para defender dari tim lawan.

Sedangkan pertandingan kedua di malam hari, saat Manchester United menghabisi rival lamanya – Liverpol – juga di stadion homebase-nya sendiri. Gol kedua yang dihasilkan oleh diving header dari Park Ji Sung, seorang pemain dari benua Asia yang terlihat mungil dibanding para pemain dari Eropa yang lain. Seorang pemain pekerja keras yang seperti tak pernah kehabisan nafas saat berlari di tengah lapangan.

275622590

Tak layak memang membandingkan kedua pemain yang jelas-jelas berbeda kasta dalam kancah kompetisi sepakbola. Tapi dari dua gol yang lahir dari kepala, yang dibandingkan postur tubuhnya harusnya tak mudah untuk dilakukan, menjadikan kedua pemain itu istimewa di akhir pekan lalu.  Bahkan para komentator dari kedua pertandingan tersebut juga memiliki impresi yang sama : “Luar biasa  bagi mereka untuk menciptakan gol dengan kepalanya, dan harusnya para pemain lawan tidak lagi meragukan kemampuan mereka berjuang untuk bola-bola atas”.

Tapi itulah kehidupan, di saat ketidaksempurnaan yang kita miliki sesungguhnya menjadi bahan utama untuk memoles kesempurnaan yang dapat kita hasilkan. Dan itulah kehidupan, di saat kekurangan yang kita miliki sesungguhnya menjadi anugrah berlimpah dari Yang Maha Kasih atas segalah kelebihan yang bisa kita tonjolkan. Tapi memang inilah kehidupan, di saat ketidaksempurnaan yang kita miliki malah seringkali menjadi suatu alibi untuk tidak menjadikan hari-hari yang dilalui lebih bermakna dan menjadi rugi.

Dan semoga gol-gol dari dua pemain mungil itu bukan hanya sekedar menjadi eforia heroik sementara. Sebuah momen yang berani dari ayunan kepala mereka, sebuah tindakan yang layak disematkan kata Brave Head bagi mereka. Sebuah kilas peristiwa yang harusnya menjadi pelajaran berhikmah bagi kita semua.