Hidup Tidak Hanya Mampir Untuk Mengeluh

Sejenak Bejo terpagut manggut-manggut, sebuah judul buku yang dilihatnya sekilas pintas di rak menulis judul “Hidup Tidak Hanya Mampir Untuk Mengeluh”. Sembari membaca rangkuman buku yang berada sampul belakang, tiba-tiba sebuah rasa panas menampar hatinya di siang yang mendung.

Bejo terngiang sekitar lima tahun silam, saat dirinya masih terpapar pasrah di atas kursi roda, seorang pasien lain yang juga mengantri di sebelahnya, melontarkan kata-kata umpatan yang tidak hanya tertuju kepada orang yang yang mencelakakannya, tapi juga kepada Yang Maha Bijaksana. Bejo termangu saat itu, melihat kondisi si pengumpat tadi yang masih jauh lebih baik daripada dirinya saat itu, si pengumpat yang hanya mengalami kerusakan tubuh “kecil” di bagian tangan, dibandingkan dirinya yang hampir separuh sisi kanan tubuhnya telah divonis difabel saat itu. Mengapa si pengumpat tadi harus mengeluh berat, mengeluh penat dan setengah histeris, tidakkah dia melihat sisi kiri dan kanannya yang jauh lebih parah dan bahkan hanya bisa terdiam dalam kelam lara jiwa dan raga ?

Tapi begitulah kita, manusia, yang diberi segala jenis berkah di dunia fana, namun kerap hanya memicingkan mata dan menerawang segala jenis rugi dibandingkan membelalakkan mata melihat rejeki.
Bejo kembali termangu memukul rasa sendu.
Bukankah dia sendiri juga kerap mengeluh, saat kondisi mulai menghimpit dan situasi terasa sulit. Tapi begitulah kita, manusia, yang kerap lupa bahwa Yang Maha Perkasa tak akan pernah memberi hambaNya segala jenis uji coba di luar kemampuan dan kuasa penerimanya.
Bejo terngiang kembali, saat membaca linimasa seorang rekannya yang kerap mengeluh akhir-akhir ini. Hanya karena situasi yang “sedikit” berubah dan membuat dirinya resah, akibatnya segala rekan dekatnya menerima keluh kesah. Mirip dengan si pengumpat yang Bejo temui lima tahun silam.
Bukankah saat kita diberi musibah, maka Yang Maha Kuasa sesungguhnya memberi berkah atas segala kejadian yang telah terlaksana. Tapi begitulah kita, manusia, yang lebih sering melihat sisi gelap sebuah peristiwa dibanding menilik cahaya terang didalamnya.

Kembali Bejo membalik buku tersebut dari sisi depan, “Hidup Tidak Hanya Mampir Untuk Mengeluh” terbaca kembali, dan tiba-tiba terngiang sebuah kutipan ayat dibenaknya….

Maka nikmat Rabb-kamu yang manakah, yang kamu dustakan

Like
1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *