Nuclear Family

Istilah nuclear family didengar oleh Bejo dari salah seorang koleganya yang dulunya telah puluhan tahun menjadi pucuk pimpinan di salah satu BUMN terkemuka. Istilah yang konon ia dapat dari sebuah pelatihan sumber daya manusia yang menggambarkan jika dalam sebuah perusahaan terdapat unsur personil yang didalamnya memiliki pertalian keluarga, khususnya dalam sebuah pernikahan.

Nuklir yang jika dimanfaatkan secara bijak akan menjadi sebuah sumber daya yang sangat efisien dan memiliki luaran berdaya guna tinggi, namun juga jika terjadi bencana dalam pengolahannya akan menyebabkan orang-orang tak berdosa disekitarnya menjadi sengsara, cacat mental dan terusir dari rumahnya. Sebuah analogi yang mungkin terlalu seram atau bisa dibilang kejam.

Bejo terngiang sekitar 16 tahun silam, saat dirinya dengan sangat terpaksa membatalkan sebuah proyek perangkat lunak, hanya karena tak tahan menghadapi perilaku sepasang suami istri yang kerap bertengkar didepannya. Uniknya, pada saat di depan publik, mereka berdua seakan tak pernah menjadi setan dan menunjukkan sikap super teladan.

Bejo juga teringat salah seorang rekan lamanya yang secara berani keluar dari institusi hanya karena nantinya salah seorang rekan kerjanya berganti status menjadi seorang suami. Sebuah tindakan yang yang mungkin bagi sebagian orang tergolong gila, mengingat karir sang wanita jauh lebih sukses dibanding sang calon suami.

Bejo manggut-manggut saat imajinya telah terpagut. Memang tak semua keluarga yang berada dalam satu lembaga akan berakhir hina dan dicap penuh koneksi belaka. Tapi tak jarang pula momen tersebut akan berakhir dengan penuh rasa murka, terlebih jika lembaga itu bukanlah sebuah perusahaan warisan keluarga. Maka bisa saja terjadi himpunan rasa terpaksa dan konflik rumah tangga yang terbawa hingga ke tempat kerja.

Kembali melayang pada ucapan sang kolega yang dulunya menjabat sebagai direktur utama tersebut, “ Sampeyan ngerti mas, apa istilah orang yang memaksakan satu kantor dengan keluarganya ?”

Bejo menggeleng penuh rasa ingin tahu.

“Dia itu termasuk saudara sepupunya Gundala. Tahu dia kan ?”

Bejo bertambah linglung. “Gundala ? Putra petir ?”

Sambil tersenyum masam dia menjawab, “Ya betul. Saudaranya Gundala, namanya Begundal….”

Dan kami tertawa bersama, sebuah tawa getir menggambarkan ironi yang dapat menjadi sebuah tragedi.

Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *