Perangai Seringai

Seringai menurut kamus besar bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai kernyih atau gerenyot muka atau mulut (untuk mengejek atau menunjukkan rasa tidak suka dsb). Namun secara bebas juga dapat dimaknai sebagai sebuah ekspresi yang tersembunyi dengan maksud untuk mencibir ataupun mengejek. Kerap kali pula kita juga tanpa sengaja menyeringai kala melihat sebuah momen ataupun perilaku seseorang yang tidak kita sukai.

Dalam bertingkah laku, beberapa orang memilih untuk menjadi penyeringai sejati. Tentu saja golongan ini nantinya jauh dari kesan diam dan seakan selalu bersikap sinis dan memiliki visi hidup yang cenderung pesimis. Perangai seringai memang bukan pilihan terbaik dalam hidup, meski kita semua mungkin juga tanpa sengaja masih jamak melakukan hal tersebut.

Perangai seringai yang sering muncul pada saat seseorang yang kita anggap remeh -baik dari sisi usia, fisik ataupun kuantitas harta- secara sontak mendadak menghasilkan sesuatu yang luar biasa atau berprestasi. Maka tanpa sadar kita akan langsung berkomentar dengan pelecehan, penghinaan dan sindiran keras serupa tamparan. Tanpa sadar pula kita akan menampilkan ekspresi seringai dengan durasi yang tak bisa dibilang sebentar.

Bagi obyek yang dikenai seringai, mungkin saja ada yang bersikap acuh seakan tak butuh. Mungkin pula akan menyiapkan serangan balik yang cepat untuk balas menghujat. Atau mungkin pula akan menanggapi dengan damai hati seperti halnya para ulama sejati yang selalu bersabar dalam menghadapi ujian diri. Tapi benarlah yang paling benar, mayoritas dari kita umumnya akan langsung bereaksi sepenuh hati untuk kemudian menumbuhkan badai kebencian yang pada akhirnya menjadi taifun permusuhan.

Bejo terpagut dan kalut. Sembari berkaca pada masa lalu yang harusnya ditinggalkan namun harus tetap dijadikan sebagai pelajaran. Sembari sadar menggumam, bahwa dirinya mungkin sangat sering berperangai seringai, dan sudah pasti akan menghasilkan berbagai badai. Memecah pertemanan, mengusir kebaikan dan menyemai pertengkaran.

Harusnya memang perangai seringai harus dikubur jauh di dalam palung hati. Harusnya pula kita mampu menahan diri agar tak spontan menyeringai dan menjadi anak buah setan. Dan harusnya pula kita bervisi optimis agar tak lagi dibilang sebagai anggota jaringan orang sinis.

Bejo sedikit murung merenung. Sembari bertekad bulat bahwa dirinya akan berusaha tak lagi berperangai seringai, dan berusaha meredam segala jenis badai. Namun juga sadar bahwa dirinya belumlah pantas dikatakan sebagai orang baik. Namun juga tetap sadar bahwa seseorang yang belum merasa dirinya baik selayaknya akan tetap berusaha setiap hari untuk tetap menjadi lebih baik, dibandingkan menjadi orang yang telah merasa baik dan tak lagi mau menerima nasehat yang baik. Dan juga masih sadar bahwa Yang Maha Bijaksana pasti akan membantu orang yang berusaha menjadi lebih baik untuk dirinya sendiri, keluarga dan seluruh orang disekitarnya. Semoga…..

Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *