Tetikus

Dalam bahasa Indonesia (yang katanya) baik dan benar, istilah mouse yang digunakan sehari-hari bersama perangkat komputer bisa juga diartikan sebagai tetikus. Tapi mungkin yang lebih tepat secara bebas dalam blog ini, tetikus harusnya juga diartikan dengan tikus yang memiliki berbagai jenis alih rupa dan dijadikan metafora.

Yang pertama tentu saja adalah tikus tanah. Tikus yang kerap dilambangkan dengan tikus yang memakai kacamata dan juga diimajinasikan sebagai tikus yang bersifat pintar (licik) ini sesungguhnya merupakan seekor tikus yang hampir buta (bahkan sebagian buta total). Mungkin sangat tepat jika dimetaforakan kepada orang-orang yang kerap hanya berkutat pada dunianya sendiri tanpa mempedulikan lingkungan sekitarnya. Orang-orang seperti ini seringkali merasakan kehebatan telah bersarang pada dirinya dan tidak lagi melihat bahwa disekelilingnya jauh lebih banyak orang yang juga jauh lebih hebat. Akibatnya saat mereka keluar dari lingkungannya, maka mereka akan menjadi silau dan bahkan buta akan kelebihan orang lain. Yang lebih bahaya adalah jika mereka kemudian menghalalkan segala cara layaknya tikus tanah imajiner di film yang digambarkan sebagai pencuri tanaman dari dalam tanah. Mencuri dengan cara cerdik tapi licik, menciptakan muslihat yang tak mungkin bisa dinalar dengan akal sehat.

Yang kedua adalah tikus (tanpa harus benar-benar kecemplung) got. Tikus got yang secara riil hanyalah tikus normal yang lazim berkeliaran di selokan hingga berwarna kecoklatan setengah hitam karena kotoran yang melekat dibadannya. Namun demikian, tikus got yang umumnya berbadan besar dan menjadi pengganggu di rumah, malah ditakuti sebagian besar penghuni rumah. Bukan takut karena racun yang tidak ia miliki, namun takut terkena kotoran dan penyakit yang ia kandung. Sungguh tepat sebagai metafora bagi orang-orang yang sering menjalankan tipuan penuh akal-akalan serta menjalankan cara-cara kotor dalam bersaing dengan kompetitornya. Mereka dipastikan hanya akan menjadi hama pengganggu bagi manusia lain yang ada di lingkungannya.

Yang ketiga merupakan jenis tikus sawah. Tikus yang umumnya digambarkan berbadan besar karena kenyang akan makanan yang secara alami tersedia di sawah dan bergerak liar. Merupakan metafora natural bagi para personil yang suka memakan harta setengah halal dengan cara yang tidak masuk akal. Melakukan gerakan sikut teman tiga ratus enampuluh derajat, tanpa harus takut dibilang manusia tak bermartabat. Tikus sawah yang secara alami pula hanya bisa mati dimakan ular sawah, merupakan perlambang bahwa orang yang digolongkan seperti tikus sawah seharusnya hanya akan kalah dengan orang yang jauh lebih licik dari dirinya alias ular sawah.

Apapun jenis tikusnya, semuanya tetap masuk ke golongan manusia rakus. Apapun jenis strata sosialnya, jenis pekerjaannya, merekalah orang-orang yang seharusnya tak berkutik dan diberangus. Namun faktanya, orang-orang tipe tikus itulah yang selalu bergelimang harta, tak mempan dengan hukum pidana dan selalu mendapatkan jabatan yang ia minta. Tapi kenyataannya, mereka bukanlah orang berjenis mulia, yang tak mungkin mendapat rahmat dari Yang Maha Raja. Jadi, biarkanlah mereka menjadi tikus, dan tak usah pula membuang tenaga sia-sia untuk berburu tikus. Karena Yang Maha Bijaksana pasti lebih tahu tentang apa yang terbaik buat kita semua.

Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *