Gila-Hormat

Entah dari mana asal frase gila hormat, sebab frase yang satu ini jika ditelaah lebih dalam akan menimbulkan definisi-definisi konyol yang mungkin dapat membuat lapar di siang hari menjadi pergi. Ambil saja contoh, jika kita mendefinisikannya sebagai orang yang jadi gila karena minta  dihormati , atau mungkin juga lebih baik dihormati daripada dia jadi gila.

Namun sesungguhnya, frase tersebut juga meresapkan makna yang dalam dan mungkin takkan mampu dinalar dengan logika sederhana. Sebab orang yang sudah terjangkit rasa gila hormat, kerapkali tak menyadari perilakunya sendiri. Dari tingkah laku sok menjadi orang penting dengan pura-pura datang terlambat, pura-pura tak punya pulpen saat dimintai tanda tangan ataupun pura-pura sibuk saat akan ditemui atau memaksa agar namanya tertera di berbagai dokumen yang sesungguhnya bukan wewenangnya. Gejala lain mungkin tampak saat dirinya ingin segala pekerjaan selesai dalam sekejap layaknya seorang tukang sulap murahan yang kerap berlaga di pasar kaget, atau juga tak ingin mengerjakan tugas remeh dan sepele serta hanya mau berongkang-ongkang ria layaknya seorang raja di sebuah hutan benua Afrika.

Namun bukan berarti bahwa mereka yang telah berpura-pura tersebut dapat digolongkan termasuk ke dalam golongan gila hormat. Sebab mungkin mereka memang benar-benar tidak sadar alias gila sehingga tak mampu menghormati diri sendiri. Atau pula mereka telah merasa terhormat sehingga menganggap orang selain dia yang sesungguhnya gila. Namun yang dikhawatirkan adalah bahwa jika mereka pada dasarnya sadar dengan apa yang mereka lakukan, maka cukuplah sudah gelar gila-hormat itu dapat tersemat.

Penyakit atau sindrom ataupun gejala tersebut memang terlihat sepele, remeh bahkan hanya menjadi bahan tertawaan di kala makan siang. Namun demikian, setiap orang yang berada di sekitar personil yang mengidap penyakit gila-hormat dipastikan akan merasa jengah meski harus berpura-pura tersenyum, dipastikan pula akan merasa mual meski harus berpura-pura tertawa.

Padahal Yang Maha Raja Penguasa Semesta-lah yang sesungguhnya harus menjadi satu-satunya zat yang mampu dengan pasti kita gila-hormat-i. Bukan manusia sok penting dan sok sibuk ataupun ingin tangannya “bersih” dari pekerjaan tapi menerima kehormatan atas segala yang tidak pernah ia kerjakan.  Karena rasa hormat yang sejati takkan didapat hanya dari kekuasaan fana yang pastinya sementara, tapi dari apa yang kita pancarkan dari hati dan apa yang kita miliki serta seberapa besar manfaatnya bagi insan di bumi.

Sebab jika seseorang memang benar-benar telah menderita gila-hormat, jangan-jangan pada akhirnya nanti ia akan menjadi gila jika tidak ada menghormati. Dan seharusnya bagi kita semua agar tetap berkaca dan berdoa semoga terhindar dari penyakit yang dapat dengan sangat mudah membuat kita terjangkit. Dan jika kita memang terjangkit, semoga kita semua dapat segera sembuh dan sadar sebelum benar-benar menjadi gila tanpa kehormatan.

MyFreeCopyright.com Registered & Protected
Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *