Bale vs Balotelli : Life is unfair ?

Menyimak pertandingan sepakbola di akhir pekan, dua klub yang dulunya punya status sederajat dengan sama-sama berpredikat sebagai klub medioker yang acapkali menerobos ke tatanan big four. Ya, dua klub yang kini telah berbeda derajat karena  masalah uang yang mereka miliki, Tottenham Hotspur dan Manchester City.

Tottenham Hotspurs alias Spurs yang punya sekian banyak pemain berbakat dan salah satu yang cukup menonjol akhir-akhir ini, termasuk di laga terakhir tersebut adalah Gareth Bale. Pemain jangkung yang kerap menyisir lapangan dari sebelah kiri dan dengan gaya khasnya melepas tendangan lengkung yang bisa menjadi assist bagi sang striker atau bahkan menyulapnya menjadi gol.

Kontras dengan sang “tetangga berisik” alias Manchester City, klub yang sejak diakuisi salah satu hartawan super kaya itu lebih memilih cara instan dalam membangun sebuah klub sakti yang seakan datang dari negara antah berantah dengan pemain yang berharga selangit dan penuh kontroversi. Dan salah satu topik utama yang selalu menghiasi media adalah salah satu pemain bengal mereka yang selain hobi membuat sensasi, tapi juga sangat oportunis saat berada di depan gawang lawan.

Pertandingan pekan kemarin menjadi salah satu kekontrasan nasib dari kedua klub dan juga kedua pemain tersebut. Spurs yang terlihat sangat ambisius untuk menang di kandang lawan, masih mampu menahan serangan para punggawa The Citizen yang memang punya skill di atas rata-rata pada saat babak pertama. Namun saat babak kedua berjalan, pada akhirnya pertahanan sang tamu jebol juga, dua gol langsung bersarang tanpa ampun ke gawang mereka secara tragis.

Beruntungnya Spurs memilik Bale, sang winger yang bertipe fighter, berkekuatan boxer dan berjiwa winner. Lewat liukan mautnya dari sisi lapangan, sebuah gol akhirnya tercipta, dan berakibat munculnya gol berikutnya yang menyamakan kedudukan. Bale yang rajin berlari, dari pertahanan hingga membantu serangan seakan tidak pernah ada kata lelah di kamus dirinya.

Bandingkan dengan Balotelli sang oportunis yang selalu berlagak sok manis di kala sehabis melakukan pelanggaran terhadap lawan. Turun sebagai pemain cadangan dan terlihat sangat malas untuk berlari mengejar bola saat rekannya yang lain sibuk bertahan, ternyata seakan dilekati keberuntungan di dalam dirinya. Hanya dengan sebuah pelanggaran yang tak begitu kentara, sebuah hadiah penalti didapat dan akhirnya berbuah gol kemenangan bagi timnya.

Life is unfair ? Hidup penuh ketidakadilan ? Apakah benar itu yang terjadi pada Gareth Bale yang terlihat sangat terpukul dengan kekalahan tersebut ? Bahwa secara jelas Bale yang sangat keras dalam berusaha kemudian hanya bisa terpaku dan termenung atas kekalahan pahit tersebut. Sedangkan Balotelli, seperti biasa, dengan gaya congkaknya tersenyum pedas ke hadapan kamera.

Tentu saja tidak ada istilah hidup yang tak adil di hadapan Yang Maha Kuasa, karena Tuhan dipastikan akan menurunkan keadilan di setiap kehidupan manusia. Hanya karena seringkali para hamba yang tidak menyadari bahwa sesungguhnya keadilan tersebut terletak di dalam ketidakadilan yang terlihat secara kasat mata.

Kebanyakan dari kita mungkin pernah, atau bahkan seringkali, berada di kursi ketidaknyamanan nasib yang diduduki oleh Gareth Bale. Saat kita sudah terlanjur bersusah payah berbasah-basah dalam sebuah pekerjaan dengan proses yang sedemikian berat untuk dijalani, ternyata mencapai hasil yang kurang memuaskan dan bahkan disalip dengan entengnya di detik-detik terakhir oleh orang-orang model oportunis dan congkak seperti si Balotelli. Lalu kita hanya bisa berteriak pasrah bahwa Tuhan tidak adil, Tuhan tak mendengar doa hambanya yang benar-benar bekerja dengan kaki dan tangannya.

Tapi sesungguhnya, karunia Yang Maha Raja terletak pada kegagalan yang kita alami pada saat itu. Andai saja kita yang berhasil pada saat itu, mungkin kita akan menjadi “Balotelli” berikutnya yang kemudian berlagak pongah dan bangga dengan keberhasilan sesaat tersebut. Jadi sekali lagi, keadilan tersebut terletak pada kegagalan yang kita kambinghitamkan menjadi ketidakadilan Tuhan.

Lalu bagaimana dengan para “Balotelli” yang seakan terus menang di tengah kegalauan kita yang rindu akan kemenangan di dalam kehidupan ? Apakah benar hidup telah berlaku adil kepada mereka yang hanya oportunis dalam kehidupan ini ? Dan benarkah memang mereka sengaja dibiarkan menang oleh Yang Maha Bijaksana agar kita yang merasa kalah benar-benar memahami arti dari kehidupan ini.

Benarlah memang, bahwa para “Balotelli” tersebut bisa menang di saat ini, dengan usaha yang kecil dan seakan tak berarti namun mampu meraih hasil yang lebih besar dari para “Bale”. Tapi apa yang terjadi di masa mendatang ? Benarkah mereka akan tetap berhasil dan menikmati keberhasilan tersebut hingga akhir hayatnya ? Tengoklah lagi bagaimana kehidupan Balotelli saat ini yang penuh sensasi dan seakan tak pernah berhenti membuat kekacauan disekitarnya. Benarkah dia menikmati segala kemenangan yang telah ia dapatkan ?

Bagi kita para pemercaya Tuhan, maka percayalah dengan sepenuh hati dan tanpa ragu dalam iman, bahwa Tuhan benar-benar Maha Adil dalam segala tindakan dan anugrahnya. Kita tak usah risau pada para wakil rakyat yang akhir-akhir ini foto-fotonya beredar kencang di jejaring sosial dengan pose yang sama dengan pose bayi di pagi hari alias tidur lelap di kala rapat sedang berlangsung penuh arti, tetapi mereka mampu menghasilkan uang yang pastinya jauh lebih banyak dari para pegawai yang harus bertarung dengan kemacetan pagi dan pulang di kala mentari sudah tak bersinar lagi. Karena keadilan yang sesungguhnya terletak pada hal yang sering kita anggap tidak adil, dan kitalah yang seharusnya berlaku lebih adil kepada diri kita sendiri agar mampu menjadi seseorang yang adil bagi orang lain. Semoga…..

Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *