Sukimin: Terjebak rasa

Tersebutlah seorang Sukimin, pengelana yang sedang mencari makna dan tetap yakin bahwa Yang Maha Raja selalu berada sangat dekat dengan para hamba-Nya. Saat tiba saat sholat Jumat, di sebuah kota kecamatan kecil di sebuah propinsi yang terletak di tengah sebuah pulau yang tercatat sebagai pulau terpadat di alam nusantara.

Saat sholat telah dimulai, sang imam ternyata memilih bacaan surat yang cukup panjang dan terbilang melelahkan bagi seorang Sukimin yang memang sedang penat setelah berjalan sepanjang pagi. Selepas salam, seorang bapak tua yang terlihat renta tampak tanpa sadar mengeluh akibat penat selepas sholat yang terhitung cukup lama. Tanpa terkira pula ternyata beberapa bapak yang ada di deretan depan juga menampakkan ekspresi yang kurang lebih sama.

Saat selepas sholat sunnah, Sukimin tanpa sengaja melihat sang imam melaksanakan sholat sunnah tepat didepannya. Anehnya, sang imam yang tadinya mampu berlama-lama sholat saat menjadi imam, ternyata pada saat sholat sunnah dilaksanakan dengan sangat cepat. Dengan rasa penasaran yang menyesaki dada, Sukimin pun bertanya kepada sang imam yang tampak anggun dengan hiasan sorban.

“Assalamualaikum, ustadz kenapa kok sholat sunnah tadi sangat cepat? Beda dengan sholat jumatnya?”

Sembari tertawa kecil sang ustadz pun menjawab,” Ya kenapa harus lama mas. Kalo yang tadi ya harus lama, biar orang-orang paham siapa saya…”

Tersebutlah seorang Sukimin, sambil manggut-manggut memegang janggutnya yang tiada memiliki rambut, mengucap salam kepada sang ustadz dengan beberapa pertanyaan yang masih menggelayut dibenaknya. Mengapa harus menunjukkan kepada orang lain tentang identitas diri sang ustadz dengan cara yang sesungguhnya bisa membuat orang lain menderita? Bukankah di lingkup kota sekecil ini, kiranya semua orang tahu kapasitas dan pribadi sang ustadz tanpa harus menunjukkan keilmuannya secara vulgar kepada dunia?

Tersebutlah seorang Sukimin, sembari masih merasa belum mampu memahami sang ustadz yang sedang terjebak rasa ingin diakui dan mengunggulkan keakuan yang sesungguhnya tak penting untuk ditunjukkan. Tapi inilah dunia, di saat kita memang harus tetap mencari makna dan merasa setiap saat merasa kurang sehingga harus terus memperbaikinya.

Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *