Sukimin: Bersyukur tiada habisnya

Tersebutlah seorang Sukimin, melintasi sebuah jalanan di sebuah kota metropolis yang konon dijejali para penghuni berhati baik dan juga berhati kotor didalamnya. Tepat di sebuah jalan yang sepi dan penuh lubang di sana-sini, tertera sebuah papan nama yang menyatakan bahwa didalamnya terdapat kumpulan anak-anak yang tiada lagi memiliki orang tua.

Mampirlah sejenak Sukimin kedalamnya, dan seperti biasa, ia mendonasikan sebagian yang ia miliki ke tempat tersebut. Sembari dijamu secangkir teh oleh sang pengurus yang menerimanya, tiba-tiba pandangan Sukimin terpaku kepada seorang anak yang terlihat sangat ceria dan kerap membantu anak lain yang usianya lebih muda dari dia. Sang pengurus pun tersenyum kecil, dan berusaha menjelaskan kepada Sukimin mengenai si bocah lugu nan riang tersebut.

“Namanya Sugito, orangtuanya baru saja meninggal dua bulan silam.”

“Keduanya ?”

“Betul, mas.  Dulunya dia berasal dari keluarga kaya, namun setelah kedua orang tuanya meninggal, sang paman malah mengusir dia dari rumah dan menitipkan dia disini.”

“Kenapa tidak diurus secara hukum?”

“Kami juga sedang mengusahakan hal tersebut. Kasihan sekali anak itu. Tapi saya yakin mas Kimin heran melihat dia begitu ceria.”

Sukimin tak bisa menahan senyum simpulnya.

“Dia selalu berkata, dulu ayah sering berpetuah, pejamkan mata sejenak dan coba lihatlah orang lain disekelilingmu, lihatlah lingkungan disekitarmu. Maka kau akan memahami betapa banyak karunia yang tak bisa kau hitung telah diberikan kepadamu. Lalu, jika kau mengalami kesusahan, mengapa harus bersedih sedangkan itu sesungguhnya hanya sebagian kecil dari nikmat yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.”

Sukimin hanya mampu terperangah.

“Apa benar anak sekecil itu bisa memahami petuah tersebut ke dalam hatinya?”

“Pemahaman itu bukan dilihat dari usia mas, karena dewasa bukanlah diukur dari usia, tetapi dari cara kita memahami kehidupan dengan baik.”

Tersebutlah seorang Sukimin, melintasi sebuah jalanan di sebuah kota metropolis yang konon dijejali para penghuni berhati baik dan juga berhati kotor didalamnya. Tepat di sebuah jalan yang sepi dan penuh lubang di sana-sini, tertera sebuah papan nama yang menyatakan bahwa didalamnya terdapat kumpulan anak-anak yang tiada lagi memiliki orang tua.

Mampirlah sejenak Sukimin kedalamnya, dan seperti biasa, ia mendonasikan sebagian yang ia miliki ke tempat tersebut. Sembari dijamu secangkir teh oleh sang pengurus yang menerimanya, tiba-tiba pandangan Sukimin terpaku kepada seorang anak yang terlihat sangat ceria dan kerap membantu anak lain yang usianya lebih muda dari dia. Sang pengurus pun tersenyum kecil, dan berusaha menjelaskan kepada Sukimin mengenai si bocah lugu nan riang tersebut.

“Namanya Sugito, orangtuanya baru saja meninggal dua bulan silam.”

“Keduanya ?”

“Betul, mas.  Dulunya dia berasal dari keluarga kaya, namun setelah kedua orang tuanya meninggal, sang paman malah mengusir dia dari rumah dan menitipkan dia disini.”

“Kenapa tidak diurus secara hukum?”

“Kami juga sedang mengusahakan hal tersebut. Kasihan sekali anak itu. Tapi saya yakin mas Kimin heran melihat dia begitu ceria.”

Sukimin tak bisa menahan senyum simpulnya.

“Dia selalu berkata, dulu ayah sering berpetuah, pejamkan mata sejenak dan coba lihatlah orang lain disekelilingmu, lihatlah lingkungan disekitarmu. Maka kau akan memahami betapa banyak karunia yang tak bisa kau hitung telah diberikan kepadamu. Lalu, jika kau mengalami kesusahan, mengapa harus bersedih sedangkan itu sesungguhnya hanya sebagian kecil dari nikmat yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.”

Sukimin hanya mampu terperangah.

“Apa benar anak sekecil itu bisa memahami petuah tersebut ke dalam hatinya?”

“Pemahaman itu bukan dilihat dari usia mas, karena dewasa bukanlah diukur dari usia, tetapi dari cara kita memahami kehidupan dengan baik.”

Tersebutlah seorang Sukimin yang hanya bisa mengangguk pelan. Bukankah saat kita berusaha meresapi segala nikmat dan karunia yang diberkahkan kepada kita setiap saat, tiada lagi waktu dan tempat bagi kita untuk bersedih tentang cobaan yang kita hadapi? Karena Yang Maha Karunia takkan mungkin menurunkan ujian kepada umatnya, jika sang hamba tak mampu menjalaninya.

Tersebutlah seorang Sukimin yang hanya bisa mengangguk pelan. Bukankah saat kita berusaha meresapi segala nikmat dan karunia yang diberkahkan kepada kita setiap saat, tiada lagi waktu dan tempat bagi kita untuk bersedih tentang cobaan yang kita hadapi? Karena Yang Maha Karunia takkan mungkin menurunkan ujian kepada umatnya, jika sang hamba tak mampu menjalaninya.

Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *