Samidin dan Jesse Porter : Case VII : Runaway Train

Tersebutlah Tumijo, yang baru saja kehilangan kedua orangtuanya dalam sebuah peristiwa pembunuhan yang keji. Tumijo yang tak rela atas kejadian tersebut berusaha mencari kebenaran atas siapa sesungguhnya sang pembunuh berdarah dingin tersebut. Karena pihak berwajib telah seakan menyerah mengenai siapa sang pembunuh sesungguhnya, maka akhirnya Tumijo pun menghubungi Samidin dan Jesse Porter demi mengungkap siapa dalang momen berdarah tersebut.

Samidin dan Jesse menyanggupi permintaan kasus baru dari sang klien. Dan pada saat mereka mulai mengadakan penyelidikan, mereka akhirnya mengetahui bahwa pola pembunuhan dari orangtua Tumijo tersebut ternyata mirip dengan beberapa kejadian serupa di kota lain. Samidin dan Jesse mulai curiga dengan kejadian-kejadian tersebut dan berusaha mengungkap apakah pembunuhan yang lain juga mirip dengan apa yang terjadi pada orang tua Tumijo.

Dan dengan menyingkap pola serta melakukan investigasi lebih lanjut, jelaslah bahwa semua kejadian tersebut berpola sama, yakni sang pembunuh selalu berusaha merampok isi rumah, dan rumah tersebut terletak dekat dengan jalur kereta api. Sedangkan waktu kejadian selalu berdekatan dengan melintasnya kereta api barang.

Samidin kemudian menemui sahabat lamanya yang saat ini bekerja di perusahaan kereta api. Tujuannya jelas hanya demi mengetahui jadwal kereta api barang dan berusaha memecahkan misteri pembunuhan yang diduga dilakukan oleh satu orang saja. Dan usaha Samidin pun tak sia-sia, dengan bantuan Jesse selama semalam berusaha mencari hubungan antara jadwal dan rute serta pembunuhan yang telah terjadi, Samidin dan Jesse Porter pun mulai menguak secercah cahaya dalam kasus kali ini.

Dengan berbekal hasil analisa serta ketajaman intuisi mereka, Samidin dan Jesse Porter berusaha menebak, dimanakah lokasi pembunuhan berikutnya akan terjadi. Singkat cerita singkat kata, mereka menuju kota Negorojiwo yang dianggap sebagai lokasi sasaran berikutnya. Dan penantian kedua detektif partikelir itu pun terbayar. Seseorang yang mereka curigai gerak-geriknya sebagai pembunuh tampaknya akan beraksi lagi untuk kesekian kalinya.

Sembari sabar menunggu aksi sang penjahat lihai tersebut, mereka berdua mulai beraksi memasang jebakan agar sang terduga perampok sekaligus pembunuh tersebut tidak melarikan diri. Dan benarlah adanya, sang terduga tersebut mulai beraksi di sebuah rumah mewah yang terletak di pinggiran kota. Lokasi yang sangat strategis bagi sang penjahat, sepi dan para penghuninya hanyalah orang tua kaya bersama pembantunya.

Dan tepat pada saat sang penjahat beraksi, Samidin dan Jesse Porter pun dengan tanpa berkeringat dapat menangkap basah sang tersangka sebagai hasil dari jebakan yang mereka pasang sebelumnya. Pada akhirnya sang tersangka pun diserahkan ke pihak yang berwenang untuk diproses lebih dalam. Benarlah memang yang paling benar, bahwa dengan pencocokan berbagai jenis identifikasi diri, ternyata sang tersangka itulah yang selama ini menjalankan aksi sebagai perampok sekaligus pembunuh berantai di berbagai kota.

Sang penjahat yang merasa sudah lihai dan berpikir bahwa taktik yang telah dijalankannya akan menjadikan aparat penegak hukum kesulitan melacak dirinya ternyata salah. Samidin dan Jesse Porter yang berusaha berpikir out of the box berhasil membuktikan bahwa akal bulus dari sang penjahat berhasil diketahui dengan cukup mudah. Dan memanglah benar yang paling benar, sepandai apapun seseorang menyembunyikan kejahatan yang dia telah lakukan kepada orang lain, pastinya akan dibongkar dengan paksa oleh Yang Maha Rahmat. Hanya tinggal manusialah yang harus berusaha agar menghindarkan dirinya dari tindakan yang merugikan orang lain.

Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *